Menu

Minggu, 30 September 2012

Cerpen - MENJENGKELKAN


MENJENGKELKAN
oleh: Mohamad Bejo


Pagi itu kuayun sepedaku lebih cepat. Matahari tidak terlihat seperti biasanya. Kurasa terlalu pagi untuk bersinar sepanas ini. Jika jam yang kupakai tidak salah berarti memang aku yang telat berangkat ke sekolah, maka dari itu kupercepat sepedaku. Maklum, desaku agak sedikit ke dalam sekitar 10 Km dari kecamatan, jadi tidak ada angkutan yang masuk. Awas. Walau begitu, aku tak terima jika desaku dikatakan desa tertinggal. Buktinya rumah-rumah desaku sekarang sudah banyak yang berubah susunannya, dari kayu menjadi tembok. Jadi wajarlah jika aku sangat marah saat teman-temanku bilang desaku terpencil, primitif. Emang aku cewek apaan, diejek seenaknya.
Aku adalah seorang cewek. Alhamdulillah kemarin aku diterima masuk di SMA favorit kecamatanku. Walaupun aku seorang wanita yang masih gadis, aku tak kan kalah dengan mereka yang menyebut dirinya cowok. Kuayun sepedaku 10 Km setiap pagi demi mengejar masa depanku. Aku sangat optimis bahwa semakin keras aku berusaha maka semakin nyata hasil yang akan kuraih nanti.
Pertama pagi itu, kukira hanya aku yang berangkat pakai sepeda ontel, ternyata jauh di depanku sana sudah ada seorang laki-laki yang berseragam sama persis dengan seragam sekolahku sedang mengayun sepeda pula seperti aku. Tidak seperti yang lain yang kebanyakan memakai motor sendiri atau dengan angkutan umum, anak cowok itu lebih memilih pakai sepeda ontel sepertiku. Kulihat dia mengayun sepeda ontel-nya dengan sangat cepat. Aku jadi penasaran dengan cowok itu. Pikirku, dia ternyata satu nasib kayak aku. Mungkin juga pelosok. Tidak, bukan, aku tidak pelosok tapi dia. Aku tak terima jika aku dikatakan anak pelosok.
Gatot. lengkapnya adalah Muhammad Gatot. Nama itu lucu terdengar saat absensi kelas. Seorang cowok pun lalu berdiri memperkenalkan diri di depan kelas. Bukannya itu anak cowok yang tadi pagi mendahuluiku saat berangkat sekolah? Aku jadi penasaran bercampur ingin tertawa jika teringat namanya tadi. Kayak nama makanan yang terbuat dari ketela pohon saja.
Hupps. Aku salah sangka. Seminggu aku sekolah, anak itu ternyata bukan anak sembarangan. Dia sering tanya pada guru-guru saat pelajaran di kelas. Bahkan malah ditanyai oleh para guru. Kenyataan yang seharusnya terbalik. Aku jadi semakin agak minder dengan cowok itu. Dia adalah calon sainganku di kelas yang sepertinya berat untuk dikalahkan.
Sial. Hebat banget sih cowok itu. Semester pertama dia raih peringkat teratas. Ingin kupukul saja kepalanya sampai benjol biar pandainya hilang. Aku sudah payah-payah belajar ternyata masih kalah darinya. Apalagi saat pagi aku berangkat bersepeda, dia selalu menyelip aku. Lagaknya sih kayaknya tidak mau kalah, bahkan kayaknya malah menantangku.
"Fi, aku pinjam buku Biologinya ya!" Gatot mulai akrab denganku. Waktu itu masih di kelas XI SMA dan entah kenapa kebetulan kami berdua memilih IPA. Sebel aku lihat mukanya. Aku sebetulnya keberatan sekali saat bukuku dipinjam olehnya. Ingin rasanya kujungging kepala anak itu. Dia kan musuhku, masak malah pinjam bukuku. Andai bukan karena malu sudah kutamparkan buku Biologiku ke mukanya. Bagaimana tidak gemas, dia selalu dapat ringking satu.
"Gini caranya, 'x' ini diakar dulu baru nanti dikalikan sama 'y'. Nah, hasilnya dibagi dengan lima". Aku menjadi semakin menyerah melawannya. Dia jadi superior Matematika di kelas. Jadi super heronya cewek-cewek saat ada PR. Tidak Cuma Matematika, dia bagai master semua bidang. Dia aktivis di OSIS, PMR, Rebana, Theater, Seni, bahkan suaranya pun juga merdu. Saat itu kudengar remang-remang dia menyanyi di kelas kuperhatikan dia dari bangkuku. Dia geleng-gelengkan kepala menikmati musiknya, namun setelah tahu bahwa dia kuperhatikan, spontan dia diam, sepertinya malu. Makan itu malu.
Aku malah menjadi salut pada musuhku satu ini. Kenapa aku semakin takluk saja. Apalagi waktu itu, saat pelajaran Matematika, yang ngajar adalah Pak Teddy, guru sekaligus dosen lulusan Australia. Saat itu Pak Teddy mengerjakan soal matematika di papan tulis yang terasa njelimet. Tak disangka setelah Pak Teddy selesai, Gatot malah tiba-tiba mengingatkan Pak Teddy bahwa ada kesalahan di bagian tertentu. Aku terperana. Hebat banget. Sampai-sampai setelah itu Pak Tedy bilang, "Ternyata dari semua siswa, hanya Gatot saja yang berfikir". Berarti aku bodoh dong? Berarti aku tidak berfikir dong? Ingin rasa aku marah waktu itu. Andai tidak seorang guru sudah kucaci mungkin Pak Teddy itu.
"Kamu hebat Tot!". Entah kenapa tiba-tiba aku memujinya. Perasaanku seakan telah menguasi lidah mengalahkan akalku yang selalu bilang bahwa dia adalah musuh. Aku lebih dekat dengan dia sekarang, apalagi kami berdua adalah sama-sama aktivis di Pramuka, jadi aku bisa lebih sering berdiskusi dengannya. Dia pun sering memberi solusi pada masalah-masalahku. Tapi aku juga pun pernah memberi solusi pada dia, walaupun jarang, satu banding seratus mungkin. Terutama saat itu, ketika ia memakai pakaian nggak rapi banget. Aku jadi ingin sekali merobek bajunya. Aku pun mendatanginya dan kumarahi dia, namun dia malah membalas senyum sambil berkata, "Kok kamu jadi perhatian banget sama aku?". Aku jadi malu sendiri setelah itu. Huh, mau disuruh jadi orang rapi kok malah mengejek.
What? Banyak banget cewek yang ngrubungin Gatot. Sialan si Erna, udah gemuk gitu masih mau saja dekat-dekat dengan Gatot. Si Lisa juga, kan dia kemarin sudah ditembak sama Erwin. Si Rofiah juga nggak kalah menjengkelkan, malah duduk satu bangku dengan Gatot. Si Alifah, Saadah, ah, ingin kulempar saja map yang kubawa waktu itu ke muka Gatot. Kujewer setiap cewek yang dekat dengan Gatot biar kapok. Untung saja isinya lembaran penting untuk LPJ OSIS, kalau tidak, pasti sudah kulayangkan ke kepala mereka satu persatu.
 "Eh, Fi, mau ikutan nggak? Trigonometri dua sisi sulit lho?" Dasar, Gatot malah menyapaku saat aku lewat di depannya. Ingin rasanya kugaruk mukanya keras-keras, udah tahu lagakku berjalan seperti orang marah malah diajak poligami bersama cewek-cewek lain untuk berlajar bersama. " Ye, cemburu ya?" Lisa, si play girl malah meledekku. Kulototi saja dia sambil aku menarik kursiku dengan keras untuk kubuat duduk.
Beberapa minggu berlalu. LPJ sudah selesai dan aku ternyata terpilih sebagai pradani baru, pemimpin tertinggi Pramuka putri di sekolah. Itu bukan hal yang menggembirakan bagiku, tapi sebaliknya. Aku takut mereka yang tidak suka padaku menjadi dengki karena aku terpilih jadi pradani. Apalagi sebelumnya kakakku juga adalah pradana putra, aku takut ada desus yang nggak enak bahwa kami melakukan nepotisme. Aku pun meluapkan tangisku waktu itu. Di musholla sekolah. Bersama dengan Gatot yang hanya duduk melihatku menangis. Kami hanya berdua saja. Kubatin dalam hatiku, berharap cowok itu bisa menenangkanku, melindungiku saat aku sedang dalam masalah, lalu mengelus kepalaku dengan kasih sayang, karena berlahan-lahan aku ternyata telah tertarik dengan cowok yang selalu menyelip sepedaku tiap pagi itu.
"Ayolah!" kubatin dalam hatiku seraya mengucurkan air mataku yang semakin tak tertahankan jika kuingat mereka yang tidak suka dengan pangkat pradaniku. Kutunggu sekali ucapannya yang lembut selayak kekasih yang merayu pacarnya untuk jangan bersedih. Dengan bayangan hiasan-hiasan bunga yang berkucuran dari langit  seperti di film-film cinta yang sangat romantis. Akupun perlebar bibirku, tak tahan dengan kesedihanku, sekalian memancingnya agar mau mengucapkan kata romantis yang kuharapkan itu.
"Udah, jangan nangis!!" Hanya tiga kata lalu diam. Cukup hanya tiga kata saja. Spontan sedihku hilang, ingin rasanya kutampar cowok IPA yang tak tahu romantis ini. Tak tahukah kau bahwa aku mencintaimu. "cengeng!" tambahnya menyulut amarahku.
Hari-hariku pun berlalu dengan menyedihkan setelah itu. Malah katanya temen-temenku, Gatot naksir sama Winiangsih. Sakit rasanya kurasa hatiku. Pedih saat harapan cinta ini putus. Tapi itu pun tak berlalu lama karena ternyata Winiangsih dapat lamaran dari orang lain sedesanya. Aku sangat bahagia mendengar berita itu. Aku masih punya kesempatan. Tapi walau ada kesempatan Gatot pun tak ada respon sama sekali padaku. Sama saja. Kayaknya cowok satu ini sangat kaku. Tak ada daya gairah untuk bercinta. Hingga sampai lulus pun aku masih tersiksa memendam cintaku padanya.
Sebenarnya ingin rasanya di waktu ahir-ahir perpisahan sekolah kuungkap seluruh perasaanku padanya. Tapi bagaimana caranya? Aku sendiri juga tidak pernah love-love-an, jadi dari pada mati malu mendingan mati memendam cinta bagiku. Lagian aku kan cewek. Tak seharusnya cewek memulai. Cowoklah yang harus datang pada si gadis. Bukannya hokum percintaan seperti itu? Ah, Namun jika tidak kuungkap kapan Gatot akan datang padaku?
Itu semua sudah lewat. Itu sudah jadi kenangan dalam diareku. Sekarang aku sudah kuliah di UIN Jogjakarta jurusan psikologi. Gatot sendiri memilih kuliah di ITB. Maklum dia kan orang IPA, super IPA, master segala bidang. Jadi wajar jika ke ITB. Kami jadi jarang hubungan setelah perpisahan sekolah itu. Lagian waktu itu belum musimnya Hp, jadi pastinya tak ada tanya-tanya tentang nomor. Harapanku pupus. Aku pun kehilangan jejak cowok yang kutaksir di cinta pertamaku itu. Tak ada kabar. Tak ada berita. Kadang aku jadi kangen saat-saat belajar bersamanya. Ingin rasanya kupeluk dia waktu itu. Senyumnya yang khas IPA membuatku berasa gemas ingin sekali memukulnya dengan sepatu. Bukan memukul untuk marah, tapi memukul untuk rasa sayang.
"Halo! Ini siapa ya?"  tanyaku.
"Aku pacarmu,"
"Pacar siapa? Jangan sinting Mas ya. Aku bukan wanita jalanan yang bisa seenaknya saja dipermainkan" Kubalas suara itu dua hari yang lalu dengan nada marah karena ada yang mengaku pacarku tanpa izin yang resmi dariku.
"Aku Gatot, kekasihmu!!"
"HHAH???!" Akupun pingsan. Untung saja Habibah, teman satu kosku menangkapku.

Cerpen - Kaulah Bungaku


Kaulah Bungaku
                                                                  oleh : Mohamad Bejo

Hp itu terus berbunyi. Sepertinya memang sengaja Hp itu tidak diangkat. Kerlap-kerlip lampu yang berada di atas papan nama toko 'Wahyu-Jadi' menghias malam dengan hiasan bunga listrik yang dipancarkannya. Tak begitu banyak pelanggan. Sudah sekitar jam setengah sebelas malam. Rerentetan suara mobil pun mulai jarang terdengar melintas jalan. Sahid, salesman toko itu terlihat sibuk dengan barang-barang yang tadi siang baru saja datang dari distributor pabrik. Ia tampak terlihat sibuk mengangkat barang-barang hingga tidak sempat mengangkat Hp-nya yang telah berdering lima kali itu.
"Aku butuh cowok yang perhatian, bukan orang egois kayak kamu" Kata itu terniang di hati Sahid seiring Ia berjalan pulang dari kerjanya malam itu. Dua minggu yang lalu Ia mendapatkan sial harus diputus pacar pertamanya yang Ia sangat dambakan akan menjadi mempelainya kelak. Sahid berjalan termenung dengan dua tangan yang dimasukkan ke dalam saku depan celana panjangnya. Matanya memerah, terasa pedih. Ia sebenarnya ingin menangis, bahkan ingin menjerit, namun Ia bingung apa hasilnya jika Ia harus berlaku seperti wanita kayak gitu. "Aku tidak mau lagi pacaran dengan lelaki miskin kayak kamu. Bondan lebih baik dari pada kamu, lebih perhatian, tampan, dan juga kaya." Hati Sahid semakin hancur.
Pagi-pagi sekali Hp tua merk Soni itu sudah berdering lagi. Lisa, cewek itu lagi, gadis yang ingin menelpon Sahid hanya untuk menjelaskan masalah hubungan mereka yang baru saja kemarin putus. Setelah enam hari bersama Bondan yang katanya lebih baik daripada Sahid, tiba-tiba Ia meminta Sahid untuk kembali padanya, menjadi pacarnya lagi.
Sahid sebenarnya masih cinta dengan wanita itu, namun Ia tak tahu harus berbuat apa ketika Ia teringat dengan kata-kata pedas yang dihujamkan Lisa padanya di kafe Lucky, yang terletak tepat di sebelah plaza kota. Kafe yang sangat ramai dengan orang-orang yang lalu-lalang, samping tempat duduk mereka waktu itu. Betapa malunya Sahid saat kekasihnya melukainya di depan umum, di hadapan banyak orang.
Sahid sebenarnya tak begitu mempermasalahkan apakah Lisa nanti bisa setia atau tidak. Tapi Ia tiba-tiba merasa takut saat mengingat kata pedas Lisa. Sahid teringat dengan pamannya, Patmo, seorang satpam di salah satu rumah juragan beras kotanya. Karena Ia tidak bisa membelikan istrinya motor Supra X yang lagi maraknya saat itu, istrinya mencacinya dengan sangat pedas sekali, bahkan melebihi Lisa. Ia tahu betul karena mendengar langsung dengan telinganya sendiri. Ia saat itu sebenarnya tak sengaja, karena disuruh ayahnya mengembalikan tangga yang dipinjam untuk memperbaiki genteng rumah. Setelah sampai di pintu rumah Patmo, pamannya, Ia mendengar pertengkaran untuk itu.  Sahid melapang dadanya, ia jadikan peristiwa itu pelajaran baginya kelak ketika memilih seorang istri.
Ring tone Hp itu berubah. Ia tahu bahwa musik itu tanda sms. Sahid pun lalu membuka pesan singkat itu. Bukan dari Lisa. Sms itu bukan dari bekas pacarnya. Sejenak Sahid tampak tersenyum kecil setelah membaca sms itu. Keluarganya menanyainya tentang calon istri Sahid. Apakah anak mereka yang tengah mengembara bekerja di kota Metropolitan itu sudah punya pasangan untuk dijadikan mempelai atau belum.
Belum. Itu jawaban Sahid kepada orang tuanya. Benaknya berbatin memang dia benar-benar tidak  punya pacar karena barusan sekitar dua minggu lalu diputus. Sahid tiba-tiba terlihat lebih ceria dari sebelumnya. Seakan ada harapan baru baginya untuk mendapatkan ganti pasangan hidup. Ia tulis lagi sms untuk yang kedua kali, Ia ingin dicarikan orang tuanya saja. Ia merasa masih terlalu muda, belum terlalu tahu bagaimana memilih wanita yang benar-benar baik baginya.
'Cari saja sendiri'. Itu jawaban orang tua Sahid. Orang tuanya terlihat sangat percaya sekali bahwa anak sulungnya itu akan membawakan seorang menantu yang baik tanpa harus dipilihkan. Hati Sahid tak jadi tersenyum. Ia sebenarnya butuh solusi, akan tetapi malah dikembalikan ke dia lagi. Cinta pertamanya telah gagal dengan sakit hati, tapi malah disuruh bercinta lagi.
Ia tak temukan jalan. Terpaksa Ia mencoba menerima telepon dari Lisa. Harapannya mungkin saja Lisa memang sudah berubah tidak seperti yang lalu. Ia coba kasih kesempatan Lisa untuk berbenah diri, tambah lagi karena Lisa adalah cinta pertamanya.
Tak semesra dulu. Tidak seindah waktu sebelum pertengkaran di kafe Lucky. Pacaran Sahid sekarang terasa monoton. Lisa pun jarang mau diajak kencan. Saat malam sedang melantunkan lagu rindu pada Sahid, Lisa jarang mau mengangkat Hp-nya untuk bicara pada Sahid. Hampa rasanya hidup. Sahid. Sia-sia saja menyambung kembali hubungannya dengan Lisa. Ia seakan hanya jadi pelampiasan saja.
Humaira. Nama itu datang dari sms orang tua Sahid, malam sekitar jam 08.00 WIB di jalan ketika Sahid pulang, setelah di ajak juragannya mengikuti pengajian. Tak begitu tahu siapa wanita itu, Ia pun segera menelpon orang tuanya karena penasaran. Diam-diam ternyata orang tuanya mencarikan Sahid seorang gadis.
Lulusan pondok pesantren. Setelah Ia lulus Mts, Ia langsung mengaji di pondok pesantren, karena waktu itu orang tuanya sedang tidak punya biaya untuk sekolah. Sahid memanggutkan kepala setelah sedikit tahu tentang gadis yang bernama Humaira itu. Pikirnya terasa berat jika harus beristrikan seorang yang miskin sederajat dengan dia. Apalagi hanya lulusan setingkat SMP. Jika dibanding Lisa yang sekarang sudah S1 jurusan Marketing, Humaira jelas masih di bawahnya. Masak lelaki miskin akan tetap miskin terus. Ia berhayal kapan-kapan akan menikahi seorang wanita kaya yang bisa memperbaiki nasibnya.
085225422322, itu nomor Hp  Humaira. Ayahnya sengaja memberikan nomor itu agar keduanya saling mengenal. Tiga hari tiga malam Sahid bingung harus diapakan nomor itu. Jika Ia menghubungi Humaira, gadis pilihan orang tuanya berarti dia akan berhianat pada Lisa. Tapi sekarang Lisa pun sudah tak seperti pacarnya. Pacar hanya seperti slogan saja bagi dua orang itu sekarang. Sahid merasa bingung harus berbuat apa.
"Benar. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri" Tegas Yusron menaruh curiga pada Lisa, saat kemarin sore melihat gadis anak dosen itu bersama dengan lelaki yang dipanggil-panggil dengan sebutan "Dani!". Sahid semakin gelisah. Benarkah yang dikatakan teman kerjanya itu? Atau Ia hanya ingin memecah hubungannya dengan Lisa? Karena Yusron sendiri dulu saat masih di kuliah bersamanya juga menaksir pada Lisa. Hati semakin kacau. Tak temukan jalan malah tambah membingungkan.
Sms dari nomor itu. Gadis yang bernama Humaira mengirim sms pada Sahid. Katanya, Ia agar harus tetap bersabar, jangan berputus asa dan tetap semangat. Sahid menjadi malu sendiri pada dirinya. Kenapa malah si wanita yang memulai duluan. Tak tahu bagaimana harus membalas, Ia hanya menulis terima kasih dengan mengkuti gambar senyum yang tersusun dari dua titik dan tanda huruf 'D' kapital.
Hati Sahid lebih terasa ringan sekarang. Tanpa Ia sadari kata sms itu telah membangunkan semangatnya untuk kembali hidup penuh inovasi. Namun Sahid belum juga mengakui bahwa perubahannya adalah berkat gadis desa yang dipilihakn ayahnya itu. Ia masih tetap senang menelpon Lisa walaupun hanya diangkat satu kali dalam dua puluh miskolan. Itupun mungkin hanya berbicara sekedar aku kangen atau aku sayang saja.
Luka itu sudah mulai terobati. Sahid sudah mulai akrab dengan Humaira. Bahkan Ia merasa aneh, sepertinya ada yang lain dari wanita desa itu. Rasa hatinya seakan lebih damai tidak seperti saat bersama Lisa. Gadis desa itu juga tidak suka meminta hal-hal yang aneh padanya. Mungkin karena dia gadis desa, jadi mungkin agak tidak tahu gaya hidup ala kota.
Tiga bulan gaji belum juga turun. Rengekan pemilik kos semakin hari semakin pedas terasa di telinga. Tak mungkin jika dia harus meminta kiriman dari rumah, karena sekarang dia sedang bekerja, seharusnya dialah yang memberi kiriman. Pikiraanya menjadi semakin pilu saat tiba-tiba Lisa memintanya untuk kencan ke pantai. Entah apa yang harus dia lakukakn sekarang?
Ia pandang sebuah komputer yang terpampang di meja kamarnya. Komputer yang Ia beli saat dulu Ia gunakan untuk menyusun skripsi ahir kuliah. Karena Ia juga senang mengirim tulisan-tulisan ke media massa, maka sampai sekarang komputer itu masih senang menemaninya, walaupun pada kenyataannya tulisannya tak ada satupun yang termuat. Akan menjual computer, itu jalan satu-satu. Ia terpaksa harus korbankan hobi menulisnya.
Tidak. Ia masih ragu untuk menjualnya. Ia tak tahu mana yang lebih baik harus dilakukan. Komputer itu adalah satu-satunya senjata miliknya untuk meraih cita-citanya sebagai penulis yang Ia idam-idamkan mulai SMA. Bertanya pada Lisa, benarm bertanya pada Lisa. Lisa adalah kekasihnya yang Ia idamkan akan menjadi istrinya. Sahid membayangkan seorang istri yang baik adalah istri yang mampu memberi solusi suaminya saat sedang dilanda masalah. Ia akan menguji Lisa dengan problemnya itu. Mana yang lebih baik, menjual komputer atau bagaimana?.
Tak lama ide itu muncul dibenak Sahid tiba-tiba Hpnya berbunyi. Ternyata sms dari Humaira. Kebetulan, ini kesempatan untuk menguji dua wanita yang Ia bingung harus memilih yang mana. Sahid pun membalas sms itu dengan ungkapan rasa ibanya yang sedang dalam masalah. Lama tidak ada jawaban Ia pun tertidur. Ia kira Humaira gadis desa itu tak akan bisa menjawabnya karena Ia hanya lulusan MTs. Tak pulas dalam tidur Sahid pun memaksa tubuhnya untuk bangun. Ia ambil Hp yang berada di meja kerja kamarnya.
From : Humaira
"Sebaiknya jangan jual komputernya. Masih ada jalan lain. Mungkin bisa mencari pinjaman dari teman"
Sahid terkejut gembira membaca balasan Humaira yang mengagumkan itu. Wanita itu ternyata lebih bisa menghargai bakat. Sahid jadi semangat, bangkit lagi. Malam setelah sms itu dia tanyai setiap teman kerjanya dan hasilnya Ia dapati Huda, adik kelasnya di kuliah dulu, yang baru datang dari kampungnya mau menghutanginya uang. Hatinya sangat bersyukur sekali.
Sahid masih juga tak percaya pada Humaira. Lisa pasti juga akan menjawab seperti itu jika Ia tanya tentang masalahnya. Perasaan hatinya untuk mengunggulkan Lisa selalu ada, hingga selang beberapa hari setelah masalahnya itu selesai, Ia hendak coba-coba tanya masalah yang sama pada Lisa.
Sahid terkejut. Hp yang Ia bawa seakan ingin Ia banting. Mukanya memerah seakan meluapkan amarah. Ia jadi sadar sekarang siapa yang lebih pantas mendampinginya. Sekilas Ia baca lagi sms balasan Lisa mungkin saja Ia salah baca.
From : Lisa
"Terserah, kau bukan apa-apaku lagi sekarang".
Lisa tidak memberi solusi bagi masalah Sahid malah tambah menukiknya.

Cerpen - Pedang Alam


Pedang Alam
Oleh : Mohamad Bejo


Sang angin berlari tergesa-gesa menelusuri hamparan lapang padang pasir yang dikepung oleh bukit-bukit kecil yang penuh fatamorgana. Pasir-pasir menyingkir ketakutan melihat tingkah laku angin yang tidak biasa melewati dataran daerah itu. Kelembutannya seakan hilang, tak tersa seperti sebelumnya yang terlihat lembut. Sang siang pun terlihat semakin bosan melewati katulistiwa, berkehendak pulang menuju ufuk barat dengan langkah pelannya yang menebar panas di seluruh gurun itu. Sang angin terus berlari mengkibaskan jubah kemegahannya meneroa oasir-pasir putih yang sedang berdiam dalam ketenangn semedinya.
Tampak mata angin terpaku rancu pada suatu sudut di balik beribu sudut di jalan hamparan padang pasir itu. Mukanya memancarkan cahaya, berisyarat kecemasan bercampur [enasarn yang menguatkan tujuan jalannya itu. Telapak kaki yang bertabur pasir itu berhembus menuju suatu bukit aneh, suatu bukit yang biasanya penuh ketenangan alam dalam kebisuan batu-batu gurun , kini berubah wujud menjadi sebuah kebisingan suara-suara pedang bernaungkan aura kemarahan.
Suara itu terdengar dari kejauhan selama sang angin berlari mencari sumber suara itu. Muka sang angn pun menjadi lebih kegorangan lagi kala ia melihat dua cahaya di ufuk langit yang bergelut saling mengalahkan satu sama lain. Ia lihat serpihan cahaya itu menghiasi langit bagai pelangi yang telah hancur menebarkan percikan-percikan halusianasi keindahan namun beraroma kesedihan. Serpihan cahaya it uterus menerus bertaburan dari satu bukit kecil yang hendak dituju sang angin. Iringan music pertarungan pun menambah rancu suasana, membulatkan tekad sang angin untuk mengetahui sedang ada apa di balik semua ini.
Langkah telapak sang angin tiba-tiba terhenti. Hatinya terkaget dibalik keingintahuannya itu. Sekilat ia sembunyikan tubuhnya dalam rasa hati kaget, ia menelusupkan diri ke balik batu besar dengan tujuan bersembunyi dan mencuri pandang akan kemelut yang ditakutkannya itu. Ia pandang tanah lapang sumber suara pedang tadi. Ia temukan kumpulan debu-debu berbaur ambisi mengaroma bersama terpaan batu gurun. Sang angin pun mencoba menunggu , mencari tahu tentang apa yang telah terjadi di balik asap aneh yang mengepul, mengepung seluruh tanah lapang gurun. Perlahan-lahan asap itu pun semakin menipis, pergi, dan sebagian terhelai jatuh tertarik gravitasi bumi.
Sebuah layar mulai tampak sedikit demi sedikit mengisi kekosongan monitor panorama gurun itu. Terlihat sebuah sosok terbungkus jubah kusam penuh blepotan debu-debu putih bercampur darah di sekujur tubuhnya. Mungkin itu isyarat kekejaman sebuah perang. Sang angin melihat sosok jubah kusam itu terkulai lemas di tanah dan tampak iangin berusaha berdiri dengan sisa-sisa kekuatannya. Tangan lemasnya terlihat masih menggenggam sebilah pedang. Namun dari sisi lain, tiba-tiba sesosok pedang laras panajang terlihat beriring semakin hilangnya kemelut asap yang berirama kabut itu. Tak disangka pedang laras panjang itu ternyata mengacung tepat didepan mata sang jubah hitam yang tadi tergeletak lemas di tanah. Sebuah pedang yang mirip seperti salib itu seakan memancarkan amarah bersiap menebas nyawa. Kilauan sinarpun tampak terpantul menyilau dari pancaran besi pedang merah itu.
"sekarang kau tak bisa apa-apa!" gertak sesosok hitam pemilik pedang palang merah. Ia dekatkan runcingan pedang teoat dihadapan mata jubah kusam yang terkulai di tanah.
Suasana tercengang seiring ketakutan. Ketenangan yang membawa diam pun datang dengan isyarat kekalutan. Alam terasa berubah. Warna merah tiba-tiba menebar menyelimuti langit seperti hawa jahat dalam film-film perang. Pasir-pasir putih mengkerut diam menambah sengang hiasan suasana. Tak lama setelah itu, suara siulan pedang pun tiba-tiba bertiup lembut membelah udara dengan pelan, berputar ke atas 90 derajat beriring dengan gerakan pergelangan tangan. Sosok jubah merah itu mengangkat pedangnya. Pedang palang merahyang tadi tertidur pun sekarang terlihat vertical tegak lurus dengan langit. Pantulan pedang sekarang terlihat tak sejernih kilauan dalam kemurniaanya. Mungkin sudah terlalu banyak nyawa yang melayang dalam lidah pedang itu. Hingga silau matahari pun enggan memantulkan cahaya padanya. Jubah kusam korban pedang itu selanjutnya, yang akan tertimpa kezaliman dari si palang yang tersohor dengan kejahatannya.
"dulu kau hamper saja membunuhku. Penduduk kota lusia kau kelabuhi. Bahkan kota kota qalber erop hamper saja kau tulari dengan ajaran satumu itu. Dan sekarang?..sekarang kau lemah. Tak berdaya melawanku. Hwa..hwa..hwa..!" tawa sang pelang hitam dalam muka kebengisan setelah sekian lama mencari kelemahan si jubah kusam untuk di tusuk belakang.
Palang hitam pun congkak. Kesombongannya ia tengadahkan ke langit seakan mengisyaatkan bahwa tak ada yang lebih kuat dari pada dia. Lototan matanya menambah suram harapan kebaikan dari hatinya. Topi baja yang ia pakai lalu ia buang menunjukkan bahwa si kuat ini tak terkalahkan. Suara benturan batupun terdengar setelah itu, antara topi besi dengan batu tua gurun yang tandus.
Pedngnya kemudian ia angkat. Ia dekatkan pedang merah itu ke leher si juah kusam yang terdusur lemah di hamparan ranjang pasir-pasir gurun panas. Sekejap ia pandang kembali muka si jubah hitam. Ia pandang dengan kebencian yang sebenci-bencinya. Palang hitam pun mengulur waktu dengan menyiksa berahan-lahan si jubah kusam, ia ingin memusakan nasfsunya semelum melihat musuh bebuyutannya benar-benar tewas.
Si jubah kusam pun coba menghindar, namun kekuatannya sekarang telah terkuras habis tadi. Ia sudah terjepit sekarang anatara ujung runcing pedang dengan maut. Beck, percikan darah pun mengalir melukis lembaran pasir alam. Bibir si jubah kusam berdarah setelah mendapat satu pukulan tajam dari si palang hitam. Dari balik bebatuan jauh, sang angin pun menutup selaput matanya, tak tega melihat penyiksaan itu. Hatinya ingin sekali berontak, namun sekilas terbelesit dalam hatinya kemampuan apa yang ia miliki sehingga mau melawan si palang hitam? Dari pada tambah jatuh korban lebih baik ia diam di balik batu itu.
"heh.." satu kata keluar dari mulut si jubab kusam, " kau pikir bisa membunuhku? Heh, sang guru telah member penjagaan kepadaku, dank au, bangsat, kau tak akan pernah bisa mencelakaiku. Guru pernah bercerita tentang kedurhakaanmu dan yehud padaku. Ternyata benar, kalian berdua memang benar-benar menyimpang dari perintah sang guru. Dengan ini aku yakin bahwa kalian berdua memang benar-benar telah durhaka pada sang guru…"
"BIADABBBB…!!?" akulah muridnya, bukan kau" gertak sang palang hitam.
"kenapa kalian begitu membenciku? Saat sang guru memilihku sebagai murid terahirnya, kulihat kalian begitu hasud padaku. Mungkin guru benar, kau dan kakak pertama, yehus telah banyak melukai perintah-perintah guru" lanjut jubah kusam lemah.
"DIAM KAU BANGSATTT..!!" gertak palang hitam kedua kalinya. Ia tending muka si jubah kusam yang terbaring tak berdaya. Otot tangannya spontan ia ia kuatkan penuh mencekik leher si jubah kusam. Jubah kusam pun hamper tak bisa bernafas. Untung saja kakinya masih sempat menendang tubuh palang hitam yang melah membuatnya terpental sekitar 3 meter.
Palang hitam masih tegar kuat. Tendangan macam itu tak mempan dan tak berasa apa-apa pada tubuhnya. Ia julurkan kembali pedang merahnya pada si jubah kusam yang semakin lemah tak berdaya. Si jubah kusam pun mencoba merangkak menjauhi mata runcing pedang itu. Ia tumpukan sikunya ke hamparan pasir gurun merangkak hina. Lukisan darah pun tergambar jelas menghias pasir-pasir putih sang seakan ingin menangis melihat keadaan si jubah kusam. Mata pedang merah pun tak segan mengikuti rangkakan jubah kusam walau sejengkal tetap ia incar, bersiap menebas leher si jubah kusam kapan saja ia mau.
"waktu kau rajai dunia, dan aku bodoh tak mengetahui letak kota Ilmehus yang penuh harta-harta hikmah. Lalu suku traitor berhasil melumpuhkanmu dan menghabiskan sejumlah besar kekuatanmu. Hahaha, inilah kesempatanku untuk balas dendam. Akan kubalas penghinaanmu dulu saat aku masih lemah. Kau akan menyesal, sampai kau mati sekalipun. Hahaha..!" tawa palang hitam.
"terserah apa katamu, tapi perlu kau ingat, aku datang ke dunia ini bukan untuk merusak atau menguasai siapapun. Aku hanya ingin mereka tahu bahwa sang guru telah memberikan amanat kepadaku untuk meluruskan mereka. Sudahlah, biar sang guru sendiri yang akan menentukan siapa yang layak hidup diantara kita. Dan kau sekali-kali tak punya kekuatan untuk menentukan hidup mati seseorang. Perlu kau tahu, warisan terahir berada di tangan bangsa kami dan kamu tak akan bisa membunuh atau membinasakan itu."
"SETAN, DIAM KAU!!!" gertak palang hitam.
Mata pedang merincing menatap wajah si juah kusam dalam kesakitannya. Angin kesedihan tiba-tiba berhembus sepoi menambah suansana semakin cengang berbaur mati. Tubuh jubah kusam terlihat berhiasa cat-cat merah korban keganasan perang dengan kaum traitor yang selanjutnya disusul oleh peperangan dengan si palang hitam.
"serahkan pedang alam padaku!" pinta si palang hitam tiba-tiba.
"pedang alam tidak ada padaku" jawab jubah kusam.
"kau pikir aku bodoh!!!". "brecckk..!!" bentak palang hitam seraya melepas kakinya yang bersepatu besi ke muka si jubah kusam. Percikan darah pun lagi-lagi muncrat menggambar di pelataran padang itu. Seakan mengisyaratkan sebuah kedzaliman telah terjadi dengan penuh kebiadaban.
"inilah yang dijanjikan sang guru" ucap si jubah kusam setelah semakin terluka dengan tendangan tadi.
"SETAN KAMPREEEETT..!!!" . "Breccckk..!!" palang hitam menambah lagi tendanganya, "kau pikir aku akan kasihan padamu? Cuiiih.." ludah palang hitam meluapkan amarahnya yang semakin membara.
Pedang merah yang tersanggar di tangan palang hitam pun sekarang telah mementuk garis vertical lagi, bersiap menebas leher, tak memebri ampun. Udara terasa memanas di sekitar daerah itu. Seketika sahaya merarah tiba-tiab keluar dari dalam pedang itu. Udara terbelah tak beraturan mengikuti alur jahat yang dikeluarkan pedang setan. Pedang itu pun terus menerjang hendak menebesa leher si jubah kusam. Kekuatanyya semakin cepat dan hebat seiring semakin cepatnya ia berjalan menuju sasaran. Hamper kurang satu lengan leher jubah kusam akan tertebas, tiba-tiba muncul sebuha cahaya [utih jernih terang keluar dari dada si jubah kusam. Cahaya itupun seketika menanngkis cepat hantaman pedang merah milik si palang hitam. Spontan suara retakan pun   ttterdengar keras diikuti dengan terpentalnya sebuah benda merah itu melayang ke tinggi kea rah langit. Langit pun kembali seperti sedia kala setelah mengalami keburamannya. Cahaya dada si jubah kusam masih terus bercahaya bahkan semakin terang dan dan sangat terang menyilau seluruh ufuk bagai matahari yang muncul dari terbenamnya. Bagai kilau surya yang memancarkan taburan-taburan cahaya ke seluruh pelosok galaksi. Sebuah kilau baja jernih mengkilat tiba-tiba terlihat muncul dari dada si jubah kusam.