Menu

Selasa, 09 Oktober 2012

Cerpen - Predator


predator

Amerika kupikir sama saja denngan Negara-negara lainnya. Penemuan-penemuan intinya juga sebenarnya dari Eropa dan Asia, dari Inggris, Prancis, Belanda dan yang lainnya, atau bahkan Islam juga memiliki andil besar dalam penemuan-penemuan itu. Tapi kenapa Negara sombong itu begitu ditakuti. Hanya berbendera beberapa bintang dengan garis-garis lurus, tak bersastra setinggi logo burung Garuda, malah jadi negara yang paling disegani di dunia. Renung hatiku waktu itu memikir seluk-beluk ketenaran Amerika. Mukaku kutundukkan menghadap lantai dengan kaki berjalan menuju kelasku, OSIC IPA dua, di MA-ku yang setingkat dengan sekolah SMA. OSIC adalah kepanjangan dari Organitation of Second IPA Class. Kami sengaja memberi nama kelas kami dengan itu.
IPA 2. Kata dua mengisyaratkan adanya kelas yang angka pertama. Berarti kelasku bukan kelas pertama, hatiku berfikir tak terima dengan pembagian kelas yang di atributi dengan angka. Dua apakah kalah dengan satu? Tidak, belum tentu dua kalah dengan satu, tapi kemungkinan juga kalah. Masalahnya aku tak tahu dasar apa yang digunakan untuk pembagian itu. Biasanya pembagian itu ditumpukan dengan dasar kemampuan, jadi mungkin saja kelasku, dua kalah dengan satu. Tapi akankah aku akan pasrah. akan kucoba lawan teori itu, akan kubuktikan dua tidak kalah dengan satu.
Deretan langkah kaki terus melangkah waktu itu. Berjalan menginjak lantai-lantai putih persegi yang mulus tak berporselin. Salah satu temanku berjalan mendampingiku berada di belakangku, entah siapa dia, aku tidak begitu ingat. Mungkin saja ia adalah si Amin teman sebangkuku yang lebih kerap bersamaku sambil kuajak bertukar pikiran berbagai masalah termasuk beberapa ide-ide bodohku yang terkadang aneh di pikiran orang lain.
Jepang, Cina, Korea. Temuan-temuan mereka tidak sedikit dalam tekhnologi. Bahkan boleh dibilang Cina memilki jasa besar dalam peradaban, karena dari negara tua itulah ide pena ditemukan sebagai alat menulis. Namun nama-nama mereka tak sekondang Amerika, aneh? Atau boleh dikatakan bahwa Amerika pernah terhina saat kalah total dengan Vietnam, namun nama kondang Amerika masih juga ditakuti. "Lalu apa yang membuat Amerika terlihat megah dan gagah?" Hati hatiku. Aku tak tahu entah di mana dan kapan pikiran ini muncul di otakku, akan tetapi ia sepertinya sering muncul saat aku berada di sekolahku, ketika menghadapi teman-teman sekelasku.
"Berani menjajah" itulah yang membuat Amerika disegani. Pertanyaan susulan meruntut menyusun hipotesis dalam hatiku. Berani bertingkah congkak dan sombong terhadap orang lain, lanjut hatiku waktu itu menafsiri ide bodohku yang mencoba mencari cara bagaimana membuat suatu kelompok bahkan negara disegani oleh negara-negara lain. Bertingkah buas walau sebenarnya lemah. Bertopeng api walau sebenarnya isinya hanya arang hangat atau bahkan cuma arang dingin.
Dengan samar di ingatanku aku mencoba memandang kembali waktu lampauku di Madarasah Aliyahku. Aku akan membuktikan teori itu. Akan aku buat kelasku berlagak hebat walau kenyataannya mereka hanya biasa-biasa saja bagiku. Kami orang IPA, pelajar yang lebih senang bertindak daripada sekedar bicara. Ini merupakan pendukung awal ideku untuk membuktikan itu karena mereka tak akan banyak membantah pada kemauanku. Jika aku reka-reka hal itu menjadi suatu yang rasional maka akal bisa menerima dan mereka akan bertindak sesuai ideku dan keebetulan juga saat itu aku ketua kelas di situ. Ditambah lagi kububuhi dengan mimpi-mimpi tujuan yang nantinya membanggakan ketika itu dicapai. Itu akan bisa lebih mempermudah dalam mengendalikan.
Kuajak mereka mengadakan kegiatan peneropongan bintang. Wow… terlihat hebat saat didengar. Ide ini muncul ketika beberapa ahir-ahir ini aku lihat gudang-gudang laboratorium penuh dengan alat-alat eksperimen. Kupikir akan sia-sia jika tidak digunakan. Ada alat-alat optic, mekanik GLB dan GLBB, rekaan organ manusia, dan yang paling mengesankan aku lihat ada teleskop nganggur di sana. Suatu ide bagus rasanya jika alat teropong bintang aku gunakan sebagai pemicu untuk bisa mempengaruhi teman-temanku.
Kuajak semua warga kelasku, dan hanya warga kelasku, untuk menyusun kegiatan ini. Dan ternyata mengagumkan hasilnya, mereka menyambut ideku dengan meriah. Kupikir, ternyata mudah juga mempengaruhi manusia dengan iming-iming teropong bintang itu. Padahal jika dipikir setiap malam pun mereka sebenarnya melihat bintang tapi kenapa begitu tertarik. Mungkinkah karena mereka ingin melihat benda cantik itu dari dekat? Padahal dalam pelajaran Tata Surya dikatakan bahwa bintang adalah suatu benda yang diselubungi api lahar seperti matahari. Indah dari jauh tapi menyengat dari dekat.
Kususun panitia dari kelasku, untuk kelasku. Walaupun IPA, asas demokrasi tetap berlaku di sini dan bukan teori evolusi Darwin yang kami gunakan, karena evolusi itu  adalah prinsip terlarang untuk manusia. Cukup kelasku, kuccgah campur tangan kelas lain, karena aku ingin mengangkat kelasku lebih tinggi dari kelas-kelas lain. Jika kelas lain ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini maka sama saja bohong. Aku tak bisa membuktikan ide teoriku. Pembuatan proposal kami buat cepat. Pendanaan pun disusun secara rinci dari kami dan untuk kami sendiri. Dengan biaya yang seminim mungkin tapi membuahkan hasil yang semaksimal mungkin. Kayak teori permodalan dalam ekonomi saja. Tak apa-apa, sesekali pinjam teori IPS untuk mengatur dana.
Rangkaian kegiatan aku tambahi dengan kegiatan-kegiatan lain. Jika peneropongan bintang adalah masuk dalam kategori Fisika yang mana hanya bisa dilakukan pada malam hari maka sorenya aku selingi dengan Kimia. Kimia, berarti bermain-main dengan barang-barang aneh yang cukup berbahaya atau bahkan memang benar-benar berbahaya, karena kemungkinan juga bisa meledak. Jika demikian, maka akan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mempelajarinya, padahal tuntutanku berencana dengan waktu yang pendek. Kupikir tidak mungkin jika harus memasukkan eksperimen kimia pada kegiatan ini karena melihat mepetnya waktu, ditambah lagi sebenarnya kelas kami juga jarang atau tidak pernah melakukan otak-atik bahan-bahan bermolekul itu.
Aku temukan ide. Jangan eksperimen, akan tetapi kita adakan diskusi tentang eksperimen. Cukup mudah bukan? Hanya bermodal lidah. Selain itu juga aku bisa melihat perbandingan sebatas apa pengetahuan temanku dibanding dengan yang lain. Kuselubungi mereka tentang bahasan nuklir yang sekarang lagi marak-maraknya dikatakan sebagai sumber energi masa depan. Kumasukkan ide-ide pada temanku. Jika mereka kekurangan bahan bicara maka diam-diam sebelum acara, aku ajari sebagian dari mereka untuk bertanya, bagaimana jika ada suatu permasalahan yang begini dan begini? dan bagaimana solusinya? Sebagian yang lain aku kasih jawaban dari permasalahan itu. Jika ada yang bertanya begini-begitu nanti jawab saja dengan begini-begitu. Suatu peracikan rencana sebelum perang. Menempatkan pion-pion di sini untuk menyekak raja, jika dimakan maka dari jauh ster pemangsa bertidak sebagai penyekak dari jarak jauh yang lebih menakutkan.
Sore Kimia, malam Fisika, dan paginya Biologi. Eksperimen dengan Mikroskop. Kebetulan juga ada beberapa Mikroskop nganggur di laboratorium habis dibuat percobaan kemarin. Pinjam saja mikoskop itu, sekedar untuk melihat-lihat gambar penampang daun tumbuhan atau benda-benda kecil lainnya. Bahkan dalam kegiatan Bioligi ini, satu dari temanku ada yang nekat ingin melihat sel darah, ia lukai sendiri tangannya, entah digigit atau disayat pakai pisau aku tak begitu ingat, pokoknya dia korbankan sendiri darahnya untuk ia jadikan bahan percobaan. Senekat inikah orang-orang IPA?
Kegiatan selesai tinggal tunggu bagaimana nilai. Teman-teman selain kelasku merasa salut dengan kegiatanku ini. Sebelumnya, sebagian mereka ada yang ngotot ingin mengikuti kegiatanku ini, namun jika aku terima mereka ideku yang awal tidak akan bisa terbukti secara murni. Dari itu dengan terpaksa aku tolak mereka. Ditambah lagi, jika satu orang, dua orang aku terima maka yang lain bisa-bisa ikut-ikutan nanti. Lebih aneh lagi, sebagian mereka ada yang dari komunitas IPS, dan yang kuingat dari mereka adalah siswi IPS yang bernama Umi, cewek yang agak sedikit centil yang sering ngatain aku anak misterius. Entah apa maksudnya? mungkin uka-uka kali.
Lebih heboh lagi saat salah satu guruku ikut-ikut mencoba pamer dengan kegiatanku ini. Pasalnya saat itu kami mau mengurusi kegiatan kami yang tinggal beberapa hari lagi. Ternyata beberapa hari sebelum kegiatanku ini ada Ujian ahir kelas tiga. Aturan baru yang dicanangkan dalam ujian tahun ini adalah pengawasnya berasal dari sekolah lain. Nah, waktu itu guruku lagi berbincang-bincang menemani salah satu guru sekolah lain yang sedang mengawasi ruangan. Tiba-tiba saja ketika aku hendak lewat di halaman jauh dari depan pintu ruangan itu aku dipanggil. Aku yang waktu itu bersama salah seorang temanku pun menghampiri kedua guru itu. Lalu guruku bertanya tentang bagaimana persiapan peneropongan bintang kami. Kujawab saja insya Allah semua lancar dan berjalan sesuai rencana.
Penaku pun berjalan hingga aku menulis cerita ini. Berbagai wajah, akal, watak, dan buku kutelusuri. Aku menjadi radak kaget beberapa tahun kemudian setelah aku membaca, membuka-buka kitab yang di antaranya adalah karangan Ibnu Khaldun, Muqadimah-nya. Seorang Sosialis sekaligus cendekiawan muslim abad 14 M yang berdarah Hadromaut tapi hidup di Andalusia, Spanyol. Muqodimah-nya yang sangat monumental itu ternyata mencetuskan salah satu dari ide bodohku beberapa tahun yang lalu. Kutemukan suatu teori yang mempunyai makna persis dengan teoriku. Suatu kecocokan yang membanggakan antara kurun 14 M Ibnu Khaldun dengan eceran pikiranku abad dua satu.
"Umat yang ganas lebih mampu untuk menang dari pada yang lain[1]". Begitu kiranya arti kata salah satu teori Ibnu Khaldun. Ganas adalah suatu tindakan berani menunjukkan kehebatan pada yang lain dan mengalahkannya, walaupun sebenarnya di dalam keberanian itu ada suatu kelemahan atau ketakutan untuk bertindak.
Jika kita terus diam, kita akan cuma jadi korban jajahan dan korban keganasan. Indonesia terlalu lelap dalam tidur sehingga bagaimanapun jika mereka tak berubah menjadi ganas maka mereka tak akan menang. Dan ganas itu dimulai dari keinginan untuk ganas. Sekiranya butuh membanting macan agar ganasnya bisa bangun. Itu yang mungkin cocok untuk membangunkan negara Bhineka ini dari hinaan. Emas-emas kita dicuri kita diam saja hanya melongok. Coba andaikata kita menjajah pastilah kita akan lebih kaya dan tidak dihina. Kita berperang di jalan kebenaran melawan para pecongkak-pecongkak walaupun kita sebenarnya lemah. Andaikata kita menang kita akan mendapatkan kejayaan. Andaikata kita kalah kita akan mendapat kebanggaan untuk pantas dikenang sebagai pemberani memperjuangkan kebenaran. Jika kita terbunuh atau mati maka kita akan mendapatkan ampunan dan rahmat dari pemilik kebenaran. Jika kita mati atau terbunuh, toh hasilnya kita nanti akan sama-sama dikumpulkan dalam satu mahsyar[2].[]



[1] Ibarat dalam kitab Mukadimah Ibnu Khaldun :
 أن الأمم الوحشية أقدر على التغلب ممن سواها
[2] Terinspirasi dari QS. Ali Imran ayat 157-158

Cerpen - Raungan Pelataran Zanbal


Raungan Pelataran Zanbal

Ia pejamkan mata. Batu nisan yang tengah tepat berada di depan mata ia cium sambil mengharap doa. Bukan meminta pada mayat itu, tapi ia mencari berkah dari bekas-bekas kemuliaan yang dibawa ketika jasad yang terbungkus batu nisan itu masih hidup. Sesekali ia pegang batu nisan itu, membayangkan bagaimana para wali itu memperjuangkan Islam. Mereka para pejuang sejati pewaris Nabi yang mungkin bisa diharap mampu memintakan hajat, sebagai wasilah saat berdoa pada Allah.
Hadi, Nur Hadi nama lengkapnya. Ia baru saja tiba di kota Tarim sekitar dua minggu yang lalu. Rasa hatinya seakan terpuaskan sekarang setelah kakinya ia injakkan di Negara wali itu. Sebenarnya ia tak begitu tahu seperti apa Tarim itu. Ia hanya mendengar kabar-kabar itu dari ustadz Ramdan yang kebetulan adalah alumni dari Yaman. Ustadz pondoknya itu ia sering bercerita tentang tanah bangsa 'Ad, sehingga lambat laun Hadi menjadi tertarik untuk mengikuti seleksi beasisiwa ke Yaman.
Hadi memejet terahir Hp-nya. Ia  masukkan ke saku baju kemeja hitam yang berukir hiasan susunan-susunan benang di sekujur bagian leher, menghias selayak kalung. Ia baru saja mengirim sms pada ustadz Ramdan bahwa ia sekarang sudah sampai di Tarim. Suatu kota yang dulu pernah diceritakan ustadznya saat setiap sedang ronda malam bersama di Pondok. Langkah Hadi pun mulai berjalan. Ia tuju masjid Ba'lawi. Konon masjid itu adalah masjid paling bersejarah di Tarim sehingga ia jadi ingin sekali membuktikan apakah ustadz Ramdan benar atau tidak.
Jauh dua minggu yang lalu. Hadi sangat terkejut ketika sampai di perbatasan kota, ketika hendak memasuki kota Tarim. Tidak hanya itu, ia juga sangat terkesan dengan pemandang alam gersang yang penuh dengan gunung-gunung menjulang. Kadang Hadi menepuk pipinya keras-keras, merasa tidak percaya apakah ini film atau memang benar-benar nyata. Kemegahan gurun arab mengejutkannya.
Sepanjang jalan ia memandang rumah-rumah tanah yang setengah hancur. Pikirnya kadang juga tak percaya bagaimana manusia bisa hidup di alam seperti ini. Bayangannya yang dulu di Indonesia lenyap begitu saja setelah ia lihat tumpukan-tumpukan jerami yang dibawa keledai-keledai di jalan yang ia lewati. Ini bukan kota lagi, tapi pedesaan. Bukan pedesaan lagi, tapi pantas disebut yang terpencil. Kadang benaknya juga berfikir benarkah aku akan menimba ilmu di sini? Begitu panas dengan pantulan-pantulan sinar matahari yang mengelilingi seluruh penjuru arah mata Angin. Gunung-gunung selayak benteng alam membuat hati kecil Hadi mengeluh bertanya sekali lagi, benarkah aku akan tinggal bertahun-tahun di sini?
Tarim adalah kota wali. Waliullah tumbuh di sini seperti rumput. Ini adalah berkat doa Sayyidina Abu Bakar saat dulu utusan pasukannya tiba di tanah ini karena ada desus pemurtadan dari sebagian kabilah Arab. Sekira begitulah yang dipaham Hadi ketika Rahman, seniornya bercerita tentang tempat yang mereka tinggali ini. Kadang Hadi juga acuh pada cerita yang seakan setengah konyol itu. Seperti layaknya dongeng saja. Jika dia masih SD mungkin dia akan kagum dengan itu, tapi sekarang ia bukan anak-anak lagi. Ia adalah mahasiswa. Ia bisa memilah mana yang rasional dan mana yang tak harus dipercayai.
Jangan macam-macam di Tarim jika kau berani macam-macam kau akan kena musibah. Slogan itu terniang dalam hati Hadi ketika malam itu berbaring untuk tidur. Benih-benih takut sedikit-demi sedikit mulai tumbuh untuk berhati-hati dengan tanah yang katanya penuh misteri ini. Sudah banyak bukti cerita dari para pendahulu. Bahkan kemarin ketika ia mengejek sebuah jarum, hanya sebuah jarum, tiba-tiba tangannya secara tak sengaja beberapa saat kemudian tertusuk oleh jarum yang terselubung di kain sarung yang hendak ia jahit.
Hadi terbangun dari tidur. Tak terasa lamunannya semalam membawanya ke alam lelap tanpa ia sadari. Bunyi adzan yang berdengung dengan lagu agak sedikit kaku membuatnya terpaksa harus meninggalkan kasur untuk berdiri mencari air wudlu. Terbelesit dalam hatinya rasa jengkel saat menuju musolla pada tingkah-tingkah aneh yang tak sopan dari orang-orang asing yang belum ia kenal. Tingkah laku yang ia rasa tidak pantas untuk dilakukan, dipampang dengan begitu saja tanpa merasa dosa. Mereka tak seharusnya meletakkan kitab seperti itu. Mereka harus bisa menghormati kitab-kitab ilmu Syariat. Masak kaki jelek yang jarang mandi kayak gitu diletakkan dekat kitab yang tergeletak di lantai seperti itu, tanpa ada rasa penghormatan pada ilmu.
Jam tujuh. Benar jam tujuh. Waktu itu adalah jadwal futhur[1]. Hadi bersila duduk di antara sekawanannya, mulai menikmati sarapan pagi dengan gunjingan-gunjingan antar teman yang masih dalam suasana hangat. Ia dekatkan susu halib panas yang ia ambil tadi ke depan kakinya. Lingkaran yang tersusun dari lima sekawanan itu pun mulai mempergunjingkan tempat-tempat yang tadi malam ia kunjungi. Tak banyak, paling cuma makam, masjid, atau toko. Tak ada Mall sebesar yang ada di Indonesia di sini. Polang-paling hanya Mini market yang penuh dengan tumpukan-tumpukan barang yang tak beraturan.
Wardin, teman seangkatan hadi memulai cerita pada lingkaran sarapan pagi itu. Roti Hadi tinggal setengah, tapi tak apalah, mendengar cerita tentang Tarim lebih mengasyikkan. Ia pun pasang telinga lebar-lebar. Suara Wardin terdengar jelas di antara mereka. Apalagi dia selalu menyela cerita dengan tawa, sehingga membuat enak saat didengarkan, hitung-hitung sebagai pengganti siaran berita pagi.
Tarim itu adalah sebuah kota yang penuh berkah. Saking banyaknya wali hingga mungkin ada ratusan atau bahkan ribuan wali dimakamkan di tanah ini. Jadi jika ada yang macem-macem biasanya dapat bingkisan musibah. Wardin memapar dengan sedikit tawa. Spontan mata Hadi menjadi tajam. Ia agaknya tak begitu terima tentang persepsi itu. Benar, Hadi memang sering dapat musibah dua minggu ini, sehingga ia seakan merasa menjadi tertuduh dengan kata-kata Wardin itu. Berarti dia masuk dalam kategori orang yang macem-macem. Itulah yang membuatnya tidak terima.
Tak sempat melanjutkan, Hadi langsung saja cabut dari tempat duduknya. Ia kembali ke sakan. Rasa masygul terniang begitu jelas dihatinya waktu itu. Ia seakan ingin marah dengan pencetus teori 'siapa yang macem-macem dapat musibah'.
Ia banting tubuhnya ke ranjang. Kepalanya menghadap tegak lurus ke langit-langit atap kamar. Terniang dalam pikiran Hadi, jika memang Tarim itu berkah, kenapa bawa musibah? Berarti itu tidak berkah lagi. Berkah berarti membawa suatu kebaikan bagi kita bukan membawa madlorot. Jika Tarim memberi madlorot pada penghuninya berarti Tarim tidak berkah lagi.
Tidak mungkin. Sekilas Hadi langsung menyahut pecisnya. Ia berjalan keluar setengah lari menuju tempat parkir sepeda. Ia laju sepedanya ke arah terbitnya matahari pagi itu. Ke timur. Ia pegang keras-keras besi berkarat yang kemarin ia beli dari kakak kelasnya. Hadi menuju Zanbal, makam ribuan wali itu. Tak mungkin Tarim, Negara para wali ini, memberi mandlorot pada orang. Bekas yang baik seharusnya memberi nilai baik bukan bencana. Atsar orang-orang soleh seharusnya memberikan kebaikan. Hadi mengencangkan sepedanya. Ia tajamkan matanya ke depan, menatap ketidakpercayaan itu.
Ia duduk berdiam dekat makam Imam Al Haddad. Setelah ia selesai menziarahi semua makam ia sengaja ingin merenung mencari jawaban di dekat tempat berkah itu. Ia percaya para pewaris nabi itu benar-benar bisa memberi berkah bukan musibah, namun kembali Hadi masih ragu dengan apa yang tengah terjadi baru-baru ini. Beberapa musibah yang diceritakan teman-temannya membuatnya ragu. Seakan memang benar bahwa Tarim itu memberi musibah.
Mata Hadi berkaca. Sekilas setelah ia diam habis membaca Yasiin, ia renungkan kembali keraguannya. Benar. Yang salah adalah teorinya bukan buktinya. Tak ada yang salah dengan Tarim dan tak ada yang salah dengan musibah itu. Yang salah adalah yang menyambung hubungan Tarim dengan musibah. Tarim adalah tempat berkah, dan musibah adalah bagian lain dari sisi kehidupan. Andai ditakdirkan kena musibah, walau tidak di Tarim pun akan tetap kena musibah. Pena telah terangkat dan kertas telah kering.


[1]  Futhur; sarapan pagi.

Jumat, 05 Oktober 2012

The Girl Of Guci 1


1
BAHTERA


Perbaikilah bahteramu!
Jadikan seluruh barang-barang di sampingmu alat yang berguna di saat orang lain menganggapnya sia! Badai akan datang di setiap kehidupan.
Pilihlah kayu terbaik untuk kau berlayar!

Tubuhku tiba-tiba terasa lemas. Mataku sejenak berhenti berbinar. Kutatap langit-langit kamarku dengan tajam setelah merenungi barisan kata yang dulu pernah menjadi pedoman dalam hidupku. Jika tubuh adalah sebuah kerajaan dan otak adalah rajanya maka motivatornya adalah sebuah gagasan yang selalu memberi kekuatan pada seluruh prajurit untuk tetap bertahan mengarungi kehidupan. Mataku kukedipkan pelan. Tadi siang Abah Masruri mengungkit-ungkit tentang kehidupan ini, yang seperti berlayar di laut berbentang luas samudra. Berfikir layar aku jadi teringat pada seseorang yang telah berjasa besar dalam hidupku. First motivator dalam hidupku. Kang Rudin  kupanggil dia dengan nama itu.
Kata-kata tentang laut mengingatkanku pada sebuah kapal. Kata kapal adalah sinonim dari bahtera. Kata filosofis bahtera ini pertama kali kudengar dari seorang lelaki promotor dalam kehidupanku, Kang Rudin . Seorang tukang pengrajin kayu dengan perawakan tubuh kekar berbalok, berkacamata, rajin, optimis, tapi agak sedikit kumuh. Wajar saja jika demikian, masalahnya kerjanya sehari-hari adalah bergelut dengan kayu, jadi jarang kulihat dia memakai baju bersih. Namun demikian ia tetap berlaku halus, murah senyum, dan tak jarang juga memberikan motivasi aku yang waktu itu hampir saja berhenti sekolah saat aku masih belajar di SMP terbuka desa Sunyalangu, tangga desaku. Maklum keluargaku bisa dikatakan tidak terlalu peduli dengan pendidikan umum, jadi wajar saja waktu itu aku setelah lulus dari MI berhenti belajar reguler, nganggur di rumah, tidak sekolah. Karena tak betah dengan ocehan kedua kakak ipar baruku yang cenderung berwatak keras menuntutku untuk bekerja seperti para tukang bangunan maka setelah sekitar setengah tahun terpaksa aku ikut sekolah SMP terbuka. Dari pada diocehi halilintar pedas setiap hari oleh monster, iparku, lebih baik diocehi pak guru atau ibu guru di sekolah, walaupun keduanya juga sama-sama menjengkelkan. Lari dari singa untuk bertemu srigala.
Kang Rudin  adalah seorang pengrajin kayu. Istilah jawa menyebutnya dengan nama 'tukang'. Walau istilah tukang berarti umum, tapi di daerahku jika kata itu disebut maka yang dimaksud adalah tukang pengrajin kayu. Jika dikaitkan dengan terminologi maka itu sudah bergeser artinya di desaku. Aku sebelum kenal Kang Rudin  sebenarnya memiliki antusias besar untuk menjadi seorang tukang. Keluargaku pun mendukung tekad besarku itu. Walau hanya menjadi seorang tukang, keluargaku sudah merasa cukup untuk melerai kesesalan yang kami alami karena trauma oleh seorang tukang kayu juga sebelumnyayang selalu menunda-nunda janjinya untuk dating memulai aktivitasnya di gubug kami.
Pagi itu, katakan saja hari Kamis, kami sekeluarga tengah menunggu seorang tukang kayu untuk bekerja memperbaiki jendela rumah yang bobrok layak ganti. Waktu itu hanya ada satu tukang kayu saja di dukuhku. Kang Rudin  belum datang ke desaku waktu itu. Dukuhku hanya memiliki satu saja tukang kayu. Oang itu-itu saja. Jam setengah tujuh sarapan spesial untuk tukang kayu sudah siap lengkap dengan rokok dua pak siap saji. Janjinya aku dan ayahku nanti akan sarapan bareng dengan tukang itu, karena begitulah adat laki-laki ketika mereka memilki hajat di desaku. Jam tujuh kulihat lingkaran waktu di dindingku, tapi tukang itu belum juga datang ke rumahku. Padahal janjinya malah setengah tujuh akan tiba lebih awal, namun sampai saat ini belum juga dia terlihat batang hidungnya. Aku kelaparan. Sial.
"Zen, kamu makan dulu!" suruh ayahku dengan nada setengah pupus.
Tanpa basa-basi langsung saja kusambar piring, merenggut mendowan dan paha ayam yang terpampang lezat, membuat liurku meleleh dari tadi. Ayahku membiarkan aku. Cuma Ibuku yang agak sedikit tidak puas dengan tingkahku. Melihat wajah Ibu yang semakin mrengut memandangku, terpaksa kupelankan lahapan seranganku. Katakan saja bahwa Ibu adalah orang yang banyak aturan. Itu cukup.
Sekarang jam 09.00 WIB. Tukang itu belum juga muncul-muncul. Ayahku semakin was-was. Jika ternyata tukang itu tidak datang berarti sia-sia saja yang dimasak oleh Ibuku mulai fajar suntup tadi.
"Zen, coba kamu tengok ke rumah Uwa Tarom. Dia ada udzur atau apa?" perintah ayahku setelah melihatku kekenyangan. Tukang itu bernama Uwa Tarom. Aku disuruh menengok rumahnya. Ah, sebenarnya aku malas berdiri, tapi apa boleh buat, terpaksa aku harus menurut.
"Apa? Sedang menyelesaikan nukangnya di rumah Paijo?" Ayahku kaget setelah kuberi tahu keadaan Uwa Tarom.
Ayahku terlihat lemas. Menyesal rasanya telah banyak mengeluarkan biaya tapi ahirnya tidak jadi kerja. Kening ayahku terlihat mengkerut. Jengkel dan sesal bercampur menjadi suatu konsentrasi larutan racun kimia yang cukup untuk membuat ayahku duduk tak berkutip di kursi rumah menikmati susah. Mulai saat itulah seluruh keluarga mendukungku untuk menjadi seorang tukang kayu.
Tak banyak yang bisa dilakukan Ayahku. Kami hanya keluarga pas-pasan saja. Nama lengkapku adalah Fuad Zen. Orang-orang memanggilku cukup dengan 'Zen'. Aku anak bungsu dari lima bersaudara. Dua kakak pertamaku adalah perempuan, semua sudah menikah, yang salah satunya menikah dengan beangkerok yang selalu mengocehi aku untuk bekerja ketika dulu aku nganggur di rumah setelah lulus MI. Aku masih kecil tapi iparku ini selalu menyindirku untuk bekerja dan bekerja. Dari pada mati kaku karena ocehannya aku sekolah saja.
Dua pertama perempuan. Dua  laki-laki dan aku yang terahir. Kakak ke tiga ku  sekarang bekerja di Jakarta dan tak kembali-kembali. Nomor empat sedang mondok di Pesantren Buntet Cirebon. Tinggal aku saja yang di rumah bersama dengan ipar-iparku yang membosankan itu. Ayahku adalah seorang kiai kecil-kecilan dengan sebuah musolla membahana di depan rumahku. Karena masalah ekonomi yang semakin melilit terpaksa Ayahku juga kadang ikut-ikutan merantau cari duit ke Jakarta. Jadi tinggallah sebatang kara yang pantas dikasihani ini bersama ibu tercinta yang bawel. Huh, membosankan.
Tiga hari dalam seminggu kuhabiskan untuk ikut program sekolah di SMP terbuka. Selain tiga hari itu kuhabiskan dengan mengembala kambing-kambing cantik yang sengaja dibelikan ayahku yang kini merantau. Emang kalau bukan aku, siapa lagi yang mengembala? Lagi-lagi pun terpaksa. Malam harinya, sehabis Maghrib aku mengajari ngaji anak-anak kampung. Walau aku terbilang kecil tapi setidaknya untuk masalah qiraah  sedikit banyak aku juga menguasai. Apalagi Cuma ngajar a, ba, ta. Apa susahnya? Keciiil.
Dengan penuh rasa puitis, waktu demi waktu pun aku gunakan untuk mengabdi pada musollaku tersayang. Aku Cuma mengajari ngaji saja. Kalau masalah menjadi imam, ayahku lebih percaya pada tetangga dari pada kepadaku. Ya pantas saja, aku kan masih 'abg' yang lagi pubertas. Jadi teori adat kejawen mengatakan, "Cah cilik iku durung pantes"[1]. Teori yang kureka-reka sendiri.
Suatu malam aku didatangi seorang lelaki tampan, kekar dengan seorang anak kecil bersarung. Aku tak tahu dari mana lelaki itu. Awalnya kukira malaikat maut hendak datang menakutiku, tapi inilah awal kali aku kenal dengan Kang Khoirudin yang ahirnya akrab ku panggil Kang Rudin. Aku mengajari anaknya ngaji Alquran setelah itu.
Khusnan nama anaknya. Setelah beberapa hari kami menjadi semakin akrab. Walau Kang Rudin terbilang cukup tua tapi dia ramah kepadaku. Inilah yang kadang membuatku salut pada promotorku ini. Tak kusangka-sangka ternyata Kang Rudin yang anaknya kuajari ngaji itu ternyata juga adalah seorang tukang pengrajin kayu. Inilah kesempatanku untuk berguru mencari jurus kunyuk melempar kayu.
"Dalam menentukan sebuah rangkaian kayu kamu harus konsentrasi memusatkan perhatian pada keseimbangan benda-benda yang akan kau rangkai menjadi sebuah lemari. Saat kau melubangi kayu untuk meraciknya bersama kayu-kayu lain pusatkanlah pikiranmu pada keserasian. Jangan sampai panjang sebelah. Jika tidak seimbang maka hasilnya akan mudah rapuh. Sama seperti teori geometri Euclid, kayu-kayu itu seperti garis-garis yang ahirnya nanti kau sambungkan menjadi sebuah rangkaian bangunan kubik tiga dimensi" Kang Rudin mengagumkan.
Tak kusangka Kang Rudin yang kelihatanya tukang kayu biasa ternyata lebih hebat dari pada guruku di SMP. Tak begitu paham apa maksud omongannya itu, tapi kulihat ia sangat keren ketika menjelaskan tentang racikan kayu-kayu yang dipahatnya. Aku hanya mangguk-mangguk saja, pura-pura paham.
"Coba kau pegang siku ini!" Kang Rudin menyodorkan sebuah alat besi berbentuk siku kearahku, "Tahukah kamu apa yang bisa kau ambil dari siku ini?" lanjut Kang Rudin semakin tegang saja.
"Inikan hanya besi, Kang" jawabku bodoh.
"Dalam besi ini ada teori matematik luar biasa yang mendasari perhitungan. Kamu tahu rumus Pithaghoras??"
"Iya, aku tahu. Aku pernah dengar dari Pak Mu'allim . Tapi Cuma dengar, Kang. Hehe…" kuekori kataku dengan tawa. Tanda aku tak paham saat diterangkan di sekolah.
"Thuuk..!!". "Dasar"
"Auuu, sakit, Kang" Kang Rudin ngawur, memukulkan siku itu ke kepalaku. Spontan saja aku kaget.
"Dasar sekolah nggak tenanan," Kang Rudin geram.
Dari siku besi ini ada prinsip pithaghoras. Sebuah rumus aneh yang mengatakan bahwa panjang kuadrat bidang miring sama dengan jumlah kuadrat dari dua sisi yang lain. Lima kuadrat sama dengan tiga kuadrat tambah empat kuadrat. Itulah dasar pithaghoras. Paham. Kang Rudin memaksa sel-sel otakku yang lemah ini untuk bereaksi. Jelas saja tetap aku tidak paham apa maksudnya.
"Kang, pelajaran kayu kok kayak pelajaran sekolah??" ungkapku protes.
"Ingat, Zen. Sebenarnya Allah itu membagi-bagi ilmu tidak hanya sebatas di bangku sekolah saja. Jika kamu punya tekad benar-benar ingin mengetahui sesuatu maka isya Allah akan dipermudah jalannya, walaupun kamu tidak belajar di bangku formal sekolah. Aku dulu pernah sekolah sampai SMA. Jadi sedikit banyak tahu tentang teori-teori itu. Setelah lulus, semangatku tak kan kubiarkan pupus. Walau aku tidak lagi sekolah tapi aku yakin ilmu itu 'siapa ingin dia tahu'.." kata terahir Kang Rudin ini membuatku terkesima.
Berbulan-bulan aku belajar menukang dari dosen pribadiku, Kang Rudin ini, dengan biaya gratis seratus persen. Bahkan kadang aku yang malah disuguhi ketela bakar saat berkunjung ke rumahnya. Iseng-iseng belajar sambil coba-coba bantu nukang. Sedikit banyak sekarang tanganku pun sudah mulai terbiasa dengan benda yang bernama palu, pasah, siku, gergaji dan kawan-kawannya. Dimana ada aku, di situ ada palu. Itu prinsipku.
Terahir kali, sebelum aku berangkat mondok ke Benda, Brebes, Jateng, aku berkunjung ke rumah Kang Rudin. Satu pesan yang sampai sekarang kuingat dari Kang Rudin 
'Hidup adalah suatu ketrampilan. Orang tidak akan bisa bertahan jika ia tidak terampil. Hidup ini hanya untuk orang-orang yang terampil. Setelah kau mondok nanti, Zen, jangan kau lupakan ketrampilan nukang yang telah kuajarkan padamu. Kau tahu Nabi Nuh? Mukjizatnya adalah mampu membuat bahtera besar sendirian dengan kuasa Tuhan semesta alam. Ketrampilannya sama dengan kita, bergelut dengan kayu-kayu alam. Kehidupan ini bak sebuah lautan samudra luas. Nabi Nuh telah selamat dari banjir bandang besar yang menyelimuti seluruh bumi waktu itu. Ia selamat dengan bahteranya. Ia selamat dengan hasil ketrampilannya. Perbaikilah bahteramu! jadikan seluruh barang-barang di sampingmu alat yang berguna di saat orang lain menganggapnya sia! Badai akan datang di setiap kehidupan. Pilihlah kayu terbaik untuk kau berlayar!
Aku terharu.


























 


[1]  Masih kecil belum pantas