Minggu, 23 September 2012

Eksistensi Ilmu Laduni Dalam Perspektif Al Ghozali


Eksistensi Ilmu Laduni
Dalam Perspektif Al Ghozali
Oleh : Mohamad Bejo


Pendahuluan
Paradigma pendidikan Islam dewasa ini kerap kali menjadi acuan untuk dijadikan titik tumpu kebangkitan Islam dalam masa keterpurukannya. Tak ubah halnya seperti Eropa dulu ketika masa-masa kejayaan Islam yang juga merasa tertindas keilmuawannya oleh pengetahuan-pengetahuan Islam yang sedang populer waktu itu. Kejayaan awal Islam membuat Eropa harus tunduk mengakui kehebatan agama samawi terahir ini. Namun sekitar mulai abad ke tujuh hijriyah semua menjadi terbalik arah. Barat mulai menampakkan bibit renaissance mereka untuk mengembangkan ilmu pengetahuan mereka menjadi maju. Di lain pihak, Islam mendapat serangan penghancuran massal oleh kaum Mongol, yang rela atau tidak rela Islam harus kehilangan ribuan bahkan jutaan hasil pemikiran.
Beranjak dari situ, jauh sekitar abad 5 hijriyah, seorang ulama besar yang tak asing lagi, dengan sebutan Al Ghozali secara emplisit mencoba mengungkap suatu konsep keilmuan yang sangat istimewa dalam ranah berfikir. Konsep keilmuwan yang dari dulu sampai sekarang menjadi impian oleh setiap orang, dan menjadi suatu kebanggaan besar ketika menguasai konsep itu. Suatu konsep yang dikatakan melampau batas adat yang mampu melewati dinding akal dalam mengkaji sebuah masalah. Ilmu Laduni, sekira begitulah mereka menyebut konsep ini. Suatu ilmu yang terinpirasi dari cerita nabi Musa as. dan nabi Khidlir as. dalam surat Al Kahfi membuat ilmu ini menjadi semakin populer saja. Selanjutnya, konsep itu menjadi suatu delikates[1] yang menjadi impian untuk menerpa sebuah bidang ilmu.
Seiring modernisasi dewasa ini, konsep ini mulai terlupa dari pemikiran umat. Kecondongan mereka dengan gaya pikir Barat membuat sebagian muslim lebih memilih pemikiran yang cenderung bergaya filsafat. Nilai dari konsep Laduni pun mulai surut, bahkan sebagaian kelompok secara langsung tidak langsung membenci adanya ilmu ini[2]. Dari sinilah ternyata Imam Al Ghozali menjadi terinpirasi untuk menulis sebuah kitab yang menerangkan eksisitensi dari ilmu laduni ini. Kitab itu kemudian beliau beri lebel nama Ar Risalah Al Laduniyah.
Kajian ini terasa penting untuk ditelaah karena setelah menilik penemuan-penemuan sekarang, ternyata Barat sendiri semakin mengakui akan eksisitensi ilmu ini melalui jalan sufiesme. Bukti nyata dari hal itu adalah dengan dikembangkan teori toga kecerdasan, IQ, EQ, dan SQ. Dari sini, sebagai muslim seharusnya kitalah yang lebih berhak untuk mendalami dan menggunakan konsep ini dalam pendidikan Islam, mengingat pendidikan Islam dapat dibilang kalah dari kemajuan Barat di bidang tekhnologi. Dari semua itu terasa perlu adanya suatu kajian ulang bagaimana dasar-dasar eksistensi ilmu Laduni itu.
Sejarah Singkat Riwayat Al Ghozali
Nama lengkap dari imam Al Ghozali adalah Muhammad ibn Muhammad ibn Muhammad ibn Ahmad Al Ghozali. Lahir di Thusi[3] pada tahun 450 H. Pertama, ia menuntut ilmu di negaranya sendiri kemudian beralih ke Jarjan, lalu kembali lagi ke Thusi. Dalam waktu ini imam Al Ghozali sudah memunyai karangan-karangan kitab. Setelah itu ia beralih ke Naisabur untuk menuntut ilmu kepada Imam Haramain. Di Naisabur inilah Al Ghozali mulai menekuni tekhnik-tekhnik perdebatan, mantik, falsafat dan lain-lain. Ia juga mengarang kitab tentang penolakan akan golongan-golongan yang dianggap melenceng tidak sejalan ahli sunnah. Setelah wafatnya Imam Haramain, Imam Al Ghozali pindah ke Baghdad tahun 484 H dan menjadi staf pengajar di madarasah Nidzomiah pada decade kepemimpinan Nidzom Al Mulk. Tak lama kemudian setelah itu, Al Ghozali kembali lagi ke Khurosan lalu ke baladnya sendiri, Thusi. Setelah inilah imam Al Ghozali menjadi lebih condong ke arah konsep sufiyah hingga beliau kembali ke rahmattullah tahun 505 H.
Kedudukan Ilmu Secara Globalitas
Pada awal mula kitab, Imam Al Ghozali mencoba menerangkan sebab-sebab kenapa dia menulis kitab ini, yaitu karena adanya sebagian kelompok yang menentang adanya eksistensi ilmu Laduni. Secara emplisit ilmu Laduni memang termasuk dalam kategori metafisikis, dari itulah diungkap dalam kitabnya bahwa ilmu jenis ini tergolong ilmu ghoibi. Dalam ranah selanjutnya Al Ghozali membantah kekakuan orang yang menafikan ilmu Laduni dengan mengatakan bahwa seorang itu tidak bisa mengakui eksistensi ilmu Laduni karena dia belum mengetahui secara jelas pembagian ilmu, perinciannya, strata ilmu, hakikat, sisi inside, dan outside dari ilmu secara globalitas. Dengan alasan inilah kemudian Al Ghozali mencoba menjelaskan perincian-perincian tersebut .
Sebelum terjun lebih dalam, Al Ghozali mencoba mendefinisikan makna dari kata 'Ilmu' itu sendiri. Definisi Ilmu menurut Al Ghozali adalah suatu diskripsi nafs (ruh) pemikir yang muthmainah dalam menyingkap hakikat dari sesuatu, dengan diskripsi yang terlepas dari materi, dan terlepas dari kaifiyah, kammiyah, elemen-elemennya, dan dzatnya jika sesuatu itu individual/satu.[4]
Selanjutnya tentang menilai dari kedudukan suatu ilmu secara globalitas, Al Ghozali selaras dengan ulama-ulama lain mengatakan bahwa kedudukan pangkat dari ilmu itu sesuai dengan pangkat dari keberadaan ma'lum-nya. Secara lebih jelasnya, beliau menggambarkan hal itu dengan ajaran ketauhidan yang mana secara vertikal berhubungan langsung dengan sang Pencipta. Ilmu tauhid menduduki derajat tertinggi dalam ranah kemuliaa ilmu karena adanya hubungan dengan keberadaan dzat tertinggi yang Maha Agung. Ilmuwan yang memegang ilmu ini pun mendapatkan kursi tertinggi pula dengan ilmu Tauhid mereka, sehingga dengan alasan ini para Nabi mempunyai kedudukan tertinggi dengan ajaran tauhid yang mereka bawa. Namun bukan berarti hal ini merendahkan ilmu-ilmu lain, karena ilmu Tauhid sendiri tidak bisa lengkap kecuali adanya premis-premis pendahuluan dari ilmu lain seperti ilmu Alam, ilmu teoritis Al Quran dan Al Hadits, fiqih, dan ilmu-ilmu lain.
Memandang tentang kemuliaan setiap ilmu, maka secara dzatiyah, setiap ilmu adalah mulia, walaupun ilmu itu adalah ilmu sihir yang secra syara' diharamkan. Ini karena memandang balik bahwa ilmu adalah anonym/lawan dari kebodohan. Kebodohan adalah salah satu dari kelaziman kegelapan/zulmah. Kegelapan adalah ekspresi dari kestatisan, dan statis dekat dengan kitidakberadaan/'adam. Selanjutnya ketika ilmu itu lebih baik dari kebodohan.
Deferensial Antara Ruh Insani Dan Nafs
Eksistensi manusia dalam penciptaanya terdiri dari dua substansi. Pertama, adalah material tubuh dan yang kedua adalah nafs, central yang mampu mempunyai kemampuan idrak. Tubuh sendiri dalam keberadaannya masih memiliki substansi lagi yang terdiri dari anggota-anggota tubuh dan daya yang menurut alAl Ghozali di sebut dengan nama nafs hewani.
Ketika menilik dari bagaimana Al Ghozali menjelaskan tentang nafs hewani ini maka terlihat kecondongan yang diinginkannya adalah emosional quation (EQ). Hal ini terlihat apa yang diungkapnya ketika mencoba membedakan nafs yang ia sebut dengan jauhari dan nafs hewani dalam kitabnya,
Dan aku tidak menghendaki dengan kata nafs ini dengan suatu daya yang mendorong untuk makan, begitu juga bukan daya yang menggerakkan syahwat dan marah, juga bukan daya dalam jantung yang mengatur kelangsungan hidup dan merealisasikan kemampuan indrawi dan gerak ke seluruh tubuh, karena semua daya-daya ini disebut daya ruh hewani. Indra, gerak tubuh syahwat, dan marah adalah tentara dari ruh ini.
Kemudian emosional quation ini dikategorikan dalam daerah substansi jism. Akan tetapi peranannya lebih samar dari pada anggota tubuh seperti mata, telinga, tangan dan lainnya. Hal ini karena memang yang berperan penting dalam memenej emosional ini adalah hormone dan enzim sehingga lebih cenderung bersifat intern dalam tubuh.
Pada ranah selanjutnya, setelah membedakan tubuh menjadi nafs hewani dan tubuh murni, bagian lain dari manusia adalah nafs yang berperan penting dalam menerima ilmu. Aktivitas dari nafs ini hanya berpotensi mengingat, menghafal, berfikir, membedakan, dan berangan-angan. Nafs inilah menurut filosof disebut dengan nafs nathiqoh. Menurut alquran disebut nafs muthmainah dan ruh amri. Menurut ahli sufi disebut hati/qolb.
Jauh diluar lingkup pembedaan nafs ini dari jism, para Mutakalimin mengatakan bahwa nafs ini tergolong dalam jenis jism akan tetapi memiliki desain lebih kompleks. Para ahli kedokteran pun cenderung berpendapat sama dengan ini. Sebagian golongan lain ada yang mengatakan bahwa darah adalah ruh yang dimaksud itu. Menilik dari kesemuanya, menjadikan adanya tuntutan pembagian ketiga yang disebut dengan 'aradl (tabiat). Ketika tubuh sedang mengaktifkan ruh hewani berupa adrenalin misalnya, maka ekspresi 'aradl yang dihasilkan adalah emosi marah. Ketika hormone dalam lambung difungsikan maka akan timbul 'aradl yang disebut lapar. Jadi, manusia terdiri dari tiga substansi yaitu jism tubuh, nafs jauhari dan 'ardl yang merupakan hasil dari ekspresi tubuh.

Klasifikasi Ilmu Dalam Perspektif Imam Al Ghozali (Masuk Juga Ilmu Sufiyah)
Memotong jauh dari pandangan perkembangan ilmu pengetahuan dewasa ini, imam Al Ghozali dalam kurun ke empat hijriyah menggolongkan aneka ilmu menjadi dua golongan utama,
  1. Ilmu Syar'i.
ilmu Syar'i sebenarnya masih terbagi lagi menjadi dua, yaitu ilmu usul dan ilmu furu'. Ilmu usul yang dimaksud dalam pemabagian ini adalah ilmu dasar-dasar agama yang lebih dikenal dengan ilmu Tauhid. Sedang ilmu furu' masih terbagi lagi mejadi tiga bagian, pertama, ilmu yang bersifat haqullah seperti sholat, zakat, haji, jihad, dan dzikir-dzkir lainnya. Kedua, ilmu yang bersifat haqul ibad, seperti ilmu muamalah, ilmu nikah, faraidl, ilmu tentang perbudakan, dan lain-lain. Ketiga, ilmu yang bersifat haqun nafsi, yaitu ilmu tentang akhlak tata karama.
  1. Ilmu Aqli.
Ilmu Aqli terbagi mejadi tiga derajat. Pertama, ilmu perhitungan dan mantiq, seperti ilmu metematika, arsitektur, perbintangan, filsafat. Kedua, ilmu alam, seperti fisika, kimia, biologi, geofisika, geografi dan lain-lain yang lebih cenderung terfokus pada keselarasan alam, baik itu dalam tubuh manusia sendiri atau lingkungan dimana tempat manusia itu berada. Ketiga, ilmu yang cenderung mendorong untuk berfikir tentang keberadaan sang Kholiq, menilik tentang sifat-sifat wajib, mustahil dan jaiznya, serta menilik pengetahuan-pengetahuan ghoib lainnnya seperti malaikat dan setan, kenabian, mu'jizat dan lain-lain.
Ketika menelaah dari pembagian itu maka ilmu sosial lebih cenderung identik dengan ilmu Syar'i, mengingat dalam ilmu Syar'i juga membahas tentang hukum-hukum muamalah, nikah, dan lain-lain. Akan tetapi, kendati demikian dewasa ini ilmu sosial sudah terlepas dari rangkuman ilmu Syar'i karena kecondongannya yang lebih mengglobal tidak memandang agama. Ambil saja sosiolgi atau antropologi. Dua bidang ilmu yang baru muncul sekitar 1950 M oleh ilmuwan barat August Comte[5] 
 
Kaifiyah Nafs Dalam Produktivitasi Ilmu
Dalam penjabaran produktivitasi ilmu, sekira ada dua pembagian utama dalam bab ini, yaitu ilmu pembelajaran/edukasi yang bersifat insani dan edukasi yang bersifat robani.
  1. Edukasi insane
edukasi insani adalah sistem pembelajaran yang sering dipakai dalam lembaga-lembaga pendidikan pada umumnya. Seorang guru menerangkan tentang kandungan ilmu dan sang murid mendengar dan memahaminya. Secara jelas sistem ini bukan sistem edukasi yang dijanjikan dalam konsep ilmu laduni, menimbang cara ini sudah lazim dipakai dikalangan umum.
  1. Kedua, edukasi robani adalah pembelajaran yang menggunakan sistem selain dari sistem edukasi insani. Dalam penjabaran yang lebih kompleks sistem ini terbagi lagi menjadi dua bagian. Pertama, edukasi robani yang dari dari luar outside. Kedua, edukasi robani yang dari dalam, inside.
Edukasi robani yang berasal dari luar berarti suatu pembelajaran yang disitu masih menggunakan bantuan guru. Sistem teach-learning masih berlaku dalam siklus ini. Akan tetapi sesuatu yang membedakan sistem ini dari yang lain adalah seorang Teacher/guru yang bertindak adalah langsung dari Allah swt. atau melalui malaikatnya. Dan inilah yang menjadikan sistem ini istimewa dan menempati tingkat teratas dari sistem edukasi yang lain. Bentuk riil dari system pendidikan ini adalah 'wahyu' yang diturunkan Allah swt. pada Nabi-nabi atau Rasul-Nya. Walau tergolong istimewa, sistem edukasi ini hanya terkhusus pada nabi dan rosulnya saja, sehingga manusia tidak mempunyai ikhtiar untuk mengusahakan edukasi ini.
Edukasi robani yang berasal dari dalam, berarti manusia melakukan sistem pembelajaran dari dan untuk dirinya sendiri. Sistem ini unik karena menggunakan murid dan guru dari satu bahan yang sama, yaitu dirinya sendiri. Dalam hal ini Al Ghozali menguraikan bahwa edukasi ini adalah bentuk lain dari tafakur. Ketika seorang sedang bertafakur, maka nafs orang itu dalam kondisi istifadah dari nafs kulii (global). Jadi nafs yang dimiliki akan mencoba menghadirkan beberapa gambaran-gambaran solusi yang dihasilkan oleh nafs kulii. Dalam hal ini Al Ghozali berpendapat bahwa ilmu secara nisbi[6] sebenarnya terpusat dan terkumpul di dalam nufus (jama' nafs), seperti halnya sebuah biji yang terpendam dalam tanah. Sedang sistem edukasi ini adalah cara untuk menumbuhkan biji-biji ilmu itu menjadi sebuah pohon ilmu yang lebih berdaya besar. Semakin pandai pemiliknya mengolah maka hasil pohon ilmu akan semakin baik dan berbuah banyak. Inilah yang sebenarnya terjadi ketika kita melihat seseorang yang satu jam saja belajar, tapi mampu melampaui orang lain yang belajar satu tahun. Salah satu yang dapat mempercepat pemandaian mengolah sistem edukasi robani inside ini adalah semakin jernihnya hati seorang tersebut. Semakin jernih hati maka ia akan semakin mampu mengolah biji yang terpendam dalam tanah tersebut. Dalam hal inilah peran takwa terlihat daya atsar-nya dalam menghasilkan ilmu. Ketika seorang pengolah ilmu dengan system ini telah berhasil mendapatkan buah, maka buah inilah yang selanjutnya disebut dengan ilham.

Hakikat Ilmu Laduni dan Ekploitasinya
Dari berbagai uraian  di atas dapat ditarik suatu benang bahwa ilmu laduni sebenarnya adalah sebuah perjalanan nafs dalam menerima ilham setelah mengalami pensterilan dan penjerihan. Semakin jernih nafs yang menerima maka akan semakin baik hasilnya.
Kemudian dalam mencapai pensterilan dan penjernihan ini, Al Ghozali menyebutkan ada tiga sebab yang bisa diusahakan oleh seorang manusia;
Pertama, mempelajari seluruh ilmu dulu dan mengambil garis besarnya.
Kedua, melakukan riyadloh/ latihan, atau dengan kata lain mengamalkan ilmu yang ia ketahui. Cara ini sejalan dengan hadits Nabi saw., "man 'amila bimaa 'alima auratsahullahu 'ilma maa lam ya'lam", 'barang siapa yang mengamalkan ilmunya maka Allah akan mengajarinya ilmu yang tidak ia ketahui'.
Ketiga, dengan bertafakkur. Tafakkur ini merupakan kontaminasi penalaran dari dua cara pertama dan kedua. Jadi seorang tersebut menalar atau memikirkan kembali dari apa yang ia dapat dari ilmu-ilmu yang ia pelajari dan ia amalkan. Tafakkur ini berbeda dengan konsep edukasi di sekolah atau madrasah-madarasah, karena tafakkur disini adalah penggalian nafs tentang biji ilmu yang sebenarnya terpendam dalam diri seorang tersebut.

Penutup
Secara kesimpulan sebenarnya ilmu Laduni itu adalah nama lain dari Ilham. Ilham sendiri merupakan salah satu sistem edukasi dari dan untuk diri sendiri dengan kejernihan hati. Selain itu juga ada sistem-sistem lain seperti wahyu dan pembelajaran yang umum terjadi di lembaga-lebaga edukasi. Gambaran dalam penghasilan ilmu laduni itu seperti pengolahan biji yang telah terpendam dalam tanah yang kemudian tumbuh menjadi pohon lalu berbuah. Ilmu Laduni adalah kemampuan yang terpendam dalam diri orang itu sendiri. Nafs/ruh manusia itu sebenarnya sudah mempunyai biji-biji ilmu yang sewaktu-waktu dapat meledak menjadi sebuah ilmu yang hebat dan mengagumkan. Wa Allahu a'lam.


[1] Makanan yang langsung dapat dimakan
[2] Salah satu golongan ini adalah golongan wahabiyah yang secara pemikiran membenci sufiesme
[3] Tahun 617 H, kota ini dihancurkan oleh tentara Mongol. Dulunya kota ini adalah kota kedua terbesar di Khurosan setelah Naisabur.
[4]  Alghozali, Ar Risalatul Al Laduniyah, hal. 224
[5] Pelajaran ips sosiologi sma.
[6] Coba cari maknanya, aslinya bil quwwah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar